----------------------------------------------------------
Tahukah kalian
ada banyak warisan jaman kolonial yang masih bisa ditemukan di sekitar kita, warisan yang kelihatan misalnya ada di kota-kota tua, dalam bentuk tradisi
hukum, bahkan di warung tegal sekitar rumah kita. Bagaimanapun ada satu lagi
warisan yang tidak kelihatan wujudnya, tapi masih menempel pada mental orang
Indonesia sampai sekarang, yaitu konsep pribumi.
Memangnya apa dan
siapa pribumi itu sebenarnya ?
Akhirnya lahirlah
istilah seperti diskriminasi dan kecemburuan sosial yang banyak kita temukan,
terutama saat dunia perpolitikan sedang panas seperti pada Pemilu Gubernur yang
terjadi di kota **sensor**. Kita yang
sekarang ngaku-ngaku sebagai orang Indonesia asli, sering tidak
sadar bahwa seluruh suku dari Sabang sampai Merauke sebetulnya dulu
termasuk bangsa pendatang. Menurut bukti
prasejarah yang ada, penghuni bumi Nusantara yang paling awal adalah Homo
Erectus, Spesies ini
diperkirakan sudah ada sejak 1 sampai 2 juta tahun lalu dan banyak variasinya. Sampai-sampai 50%
total temuan fosil Homo Erectus dunia asalnya dari Indonesia, spesies manusia
modern baru masuk ke Nusantara secara bertahap pada Era Pleistosen, nah para manusia
pendatang ini terbagi menjadi dua golongan besar yaitu Melanesia dan
Austronesia. Diperkirakan
orang Melanesia sudah datang sejak 50 rb tahun lalu, baru disusul
orang Austronesia sekitar 4 rb tahun lalu, merekalah yang
berkembang menjadi suku-suku yang kita kenal sekarang.
Kemudian
orang-orang di Nusantara awalnya menjalin hubungan dengan India lewat perdagangan
logam dan rempah, Pengaruh yang
kita dapat dari India saat itu adalah kebudayaan lembah sungai Indus, yang akhirnya
berkembang menjadi kebudayaan Hindu-Budha, maklum film
Bollywood favorit kita baru muncul sejak abad ke-20 Setelah itu
barulah kita menjalin hubungan dengan dinasti Tiongkok yang ada di wilayah selatan. Seperti saat
rombongan Laksamana Cheng Ho datang ke wilayah Nusantara, Bangsa Arab secara
bertahap juga datang pada masa-masa ini terutama lewat perdagangan, Hubungan antar
budaya ini tentu menghasilkan banyak perkawinan silang, bisa jadi satu
dari orang-orang asing ini termasuk leluhur puluhan generasi di atas kita.
Awalnya orang
Nusantara dan orang pendatang hidup berdampingan dengan damai, namun pemerintah
Eropa jaman kolonial mulai menggolongkan orang berdasarkan asal-usul etnisnya, Singkat cerita
orang-orang Eropa menempati golongan paling atas dan paling enak, disusul
orang-orang Timur termasuk orang Tionghoa, Arab, dan India. Sementara
orang-orang yang disebut pribumi ditempatkan di posisi paling bawah, lalu orang-orang
Indo alias keturunan campuran pun ikut menderita karena tidak jelas masuk
golongan mana.
Nah menjelang
kemerdekaan, tokoh nasional seperti Cipto Mangunkusumo, Amir Syarifuddin, dan Soekarno
mengusulkan agar orang Tionghoa dan orang Indo lainnya ikut
diperhitungkan sebagai orang Indonesia, asalkan mereka
sudah menetap, berbudaya dan berbahasa Indonesia.
Sayangnya konsep
ini cuma bertahan sampai tahun 65, karena di era
Orde Baru lagi lagi ada penggolongan antara pribumi VS non pribumi, dampaknya orang-orang keturunan asing harus beradaptasi dengan budaya Indonesia secara ekstrim misalnya sampai harus ganti nama.
Setelah 32 tahun
rezim Orde Baru akhirnya berakhir, konsep
penggolongan pribumi VS non pribumi pun sudah dihapuskan oleh Gus Dur. Jadi sekarang,
sudah bukan jamannya lagi ribut soal asal usul dan perbedaan lainnya, Jangan sampai
kita ngaku anak kekinian, tapi masih bermental kekunoan.








0 komentar:
Posting Komentar